
Suasana haru dan penuh khidmat mewarnai pelaksanaan Haflah Ikhtitam Pondok Pesantren Assiddiqiyah Karawang yang digelar pada Sabtu, 17 Mei 2026. Wisuda dibagi dalam dua sesi: santri putri pada pukul 08.30–11.30 WIB dan santri putra pada pukul 13.30–16.00 WIB.
Di bawah langit Karawang yang hangat, aroma doa dan lantunan tahlil menyelimuti seremoni yang lebih dari sekadar penyerahan ijazah. Bagi para orang tua, momen ini adalah jawaban atas doa-doa di sepertiga malam — mereka teringat kembali hari pertama mengantar buah hati ke gerbang pesantren, hari di mana air mata jatuh karena beratnya perpisahan.
Lulusan Pesantren Tembus PTN Tanpa Tes
Pencapaian akademik para lulusan menjadi sorotan utama dalam acara tersebut. Perwakilan wali santri, H. Bambang Sugiharto, S.E., mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang berhasil mematahkan stigma bahwa santri hanya unggul di bidang keagamaan.
“Kami bangga karena setiap tahun Assiddiqiyah melahirkan lulusan terbaik yang mampu bersaing, bahkan mengalahkan lulusan SMA 1 yang selama ini menjadi barometer sekolah unggulan. Terbukti, banyak putra-putri kami yang lolos ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SNBP atau tanpa tes. Ini adalah buah dari ilmu dan keberkahan guru,” ujarnya.
Kiai: Santri Tidak Tidur, Hanya Ketiduran
Dalam Mauidzah Hasanah-nya, pengasuh pesantren KH Hasan Nuri Hidayatullah atau akrab disapa Gus Hasan menyampaikan pesan yang disambut hangat hadirin dengan penuh tawa namun sarat makna.
“Santri Assiddiqiyah itu hebat, tidak pernah tidur, mereka hanya sering ketiduran. Orang tidur itu kepalanya di bantal, pakai selimut, dan baca doa. Tapi santri, sedang wiridan ‘dekluk’ ketiduran, sedang di kelas ketiduran. Itu tandanya fisik mereka lelah dalam aktivitas yang positif,” ujar Gus Hasan disambut gelak tawa dan haru para hadirin.
Lebih jauh, Gus Hasan memaparkan filosofi hidup yang ia sebut sebagai “kuota kesulitan”. Menurutnya, manusia tidak mungkin terus-menerus dalam kemudahan, juga tidak terus dalam kesulitan. Santri yang memilih tirakat, membatasi tidur, dan bangun malam untuk wiridan sejatinya sedang menghabiskan jatah kesulitan di masa muda — agar kelak yang tersisa hanyalah kemudahan.
Empat Pilar Bekal Kehidupan
Gus Hasan juga menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan pesantren adalah meraih Hayatan Thayyibah — kehidupan yang baik di dunia hingga akhirat. Ia merumuskan empat modal utama yang harus dimiliki setiap lulusan: ilmu sebagai kompas amal, niat yang benar sebagai penggerak hati, ikhlas sebagai penjaga ketulusan, dan sabar sebagai keteguhan menghadapi ujian.
Mengutip Imam Ahmad bin Ruslan, Gus Hasan mengingatkan: “Setiap orang yang beramal tanpa dasar ilmu, maka amalnya tertolak dan tidak diterima.”
Ikrar Alumni: Jaga Empat Pilar Negara
Acara ditutup dengan pembacaan Ikrar Alumni. Para lulusan berikrar tidak hanya menjaga nama baik almamater, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mempertahankan empat pilar negara: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.
Wisuda ini sejatinya bukan garis akhir, melainkan garis start menuju pengabdian yang lebih luas — bagi para santri, keluarga, dan masyarakat yang menanti sumbangsih mereka.
Liputan: Haflah Ikhtitam PP Assiddiqiyah Karawang, 17 Mei 2026